MEMBANGUN KELUARGA YANG KOKOH
“Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan.” (Amsal 12:11). Ayat ini menyatakan bahwa seseorang untuk dapat meraih dan menikmati sesuatu (makanan, kedudukan, kesuksesan atau kebahagiaan atau apa pun) diperlukan suatu perjuangan yang tidak mudah karena dibutuhkan keseriusan atau kegigihan untuk meraihnya. Demikian juga dalam sisi rohani, seseorang yang membangun suatu keluarga kokoh. Yang dimaksudkan sebuah keluarga yang kokoh adalah seluruh anggota keluarga yang memiliki hati yang sama-sama ingin hidup di dalam fiman dan bertumbuh di dalamnya. Selanjutnya, mereka berusaha keras untuk menunaikan peran dan tanggung jawab baik itu sebagai suami-istri maupun ayah-ibu juga sebagai anak. Dan untuk mencapai hal itu juga dibutuhkan sebuah kebersamaan, sehingga ketika menghadapi banyak tantangan atau serangan dari luar, mereka bisa sehati bersama-sama menghadapinya.
Tidaklah menutup kemungkinan untuk mengalami konflik atau krisis walau pun sudah berjalan seperti hal-hal diatas, namun mereka menggunakan konflik sebagai titik balik pertumbuhan. Dengan kata lain mereka belajar dari konflik untuk makin bertumbuh atau makin kokoh. Mereka memandang konflik lebih sebagai perbedaan, bukan masalah pada pribadi masing-masing. Pada faktanya memang kebanyakan konflik timbul dari perbedaan, bukan selalu masalah pada kepribadian atau karakter. Terpenting bagi seluruh anggota ada kemauan belajar untuk tidak mengulang konflik yang sama dan bertumbuh selangkah lebih dewasa sebelum konflik terjadi. Oleh sebab itu, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
Pertama: takut akan Tuhan dan takut untuk berdosa menjadi dasar keluarga, sehingga apa pun yang dirasakan atau dipikirkan, tetap tunduk pada Tuhan dan kehendak-Nya. Jadi, kendati bersitegang atau berselisih pendapat, mereka tetap patuh pada Tuhan dan berusaha keras untuk tidak saling melukai satu sama yang lain. Kedua: mempercayai pimpinan Tuhan, bukan berarti pertimbangan manusia tak perlu. Jadi ketika membuat perencanaan hidup, mereka melibatkan Tuhan dan mencari kehendak-Nya, bukan selera pribadi, tidak terpaku pada apa yang baik bagi diri sendiri melainkan apa yang baik bagi Tuhan. Ketiga: melihat pernikahan sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya.
Biarlah PELITA edisi ke 94 dibawa kepada suatu kerinduan untuk membangun keluarga yang kokoh melalui berbagai aspek kehidupan, sehingga nama Tuhan semakin dipermuliakan.
Dari Meja Gembala
Tidaklah menutup kemungkinan untuk mengalami konflik atau krisis walau pun sudah berjalan seperti hal-hal diatas, namun mereka menggunakan konflik sebagai titik balik pertumbuhan. Dengan kata lain mereka belajar dari konflik untuk makin bertumbuh atau makin kokoh. Mereka memandang konflik lebih sebagai perbedaan, bukan masalah pada pribadi masing-masing. Pada faktanya memang kebanyakan konflik timbul dari perbedaan, bukan selalu masalah pada kepribadian atau karakter. Terpenting bagi seluruh anggota ada kemauan belajar untuk tidak mengulang konflik yang sama dan bertumbuh selangkah lebih dewasa sebelum konflik terjadi. Oleh sebab itu, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
Pertama: takut akan Tuhan dan takut untuk berdosa menjadi dasar keluarga, sehingga apa pun yang dirasakan atau dipikirkan, tetap tunduk pada Tuhan dan kehendak-Nya. Jadi, kendati bersitegang atau berselisih pendapat, mereka tetap patuh pada Tuhan dan berusaha keras untuk tidak saling melukai satu sama yang lain. Kedua: mempercayai pimpinan Tuhan, bukan berarti pertimbangan manusia tak perlu. Jadi ketika membuat perencanaan hidup, mereka melibatkan Tuhan dan mencari kehendak-Nya, bukan selera pribadi, tidak terpaku pada apa yang baik bagi diri sendiri melainkan apa yang baik bagi Tuhan. Ketiga: melihat pernikahan sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya.
Biarlah PELITA edisi ke 94 dibawa kepada suatu kerinduan untuk membangun keluarga yang kokoh melalui berbagai aspek kehidupan, sehingga nama Tuhan semakin dipermuliakan.
Komentar