DAMPAK MEDIA PADA ANAK
Siapa pun pasti tiidak meragiukan lagi bahwa masa kecil atau masa kanak-kanak adalah suatu manis dan indah dan masa yang penuh kenangan yang tidak terlupakan. Tiada sedikit orang-orang ketika beranjak dewasa, mereka senantiasa mengenang kembali masa kecil mereka dengan penuh rasa sukacita dan mereka akan menceritakan peristiwa dan kenangan masa kecil itu dengan penuh semangat, dan tiada akan pernah habis untuk diobrolkan. Mungkin sekali masa kecil menjadi penuh kenangan karena masa itu selalu diisi dengan berbagai kegiatan yang diwarnai dengan permainan, imajinasi, rasa ingin tahu, dan ketiadaan beban hidup, sehingga wajar masa kanak-kanak menjadi manis dan menarik bagi siapapun. Namun, dewasa ini, ahli psikologi dan sosial meyakini, era kanak-kanak di dunia sedang berhadapan dengan keruntuhan dan akan tinggal menjadi sejarah saja. Di masa yang akan datang, anak-anak di dunia tidak akan lagi menikmati masa kanak-kanak yang manis, yang seharusnya menjadi masa terpenting dalam membentuk kepribadian mereka. Ini semua karena derasnya arus media yang tidak sedikit membuat anak-anak menjadi cuek, kuper karena hanya berkutat dengan media (game, internet, buku, dll).
Bila saudara sebagai orang tua Kristen sudah sepatutnya rela meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak saat mereka hendak menyaksikan tayangan media elektronik atau sedang browsing, bermain game atau pun. Bantulah mereka dalam menyeleksi media cetak dan musik yang layak dibaca dan baik untuk didengar, juga perlu mengusahakan sesekali mengajak anak ke toko buku Kristen untuk membeli buku dan kaset/CD lagu yang cocok dengan usia anak, agar segala yang mereka tonton, baca dan dengar dapat membangun karakter mereka untuk menyerupai Kristus (III Yohanes 1:4 “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran”). Juga aturlah waktu untuk dapat bersama-sama dengan seluruh keluarga bermain bersama (tidak selalu harus ke mall / shopping centre) agar mereka tidak berkutat hanya di depan TV, komputer, atau media lainnya, tetapi bisa bergaul atau berinteraksi dengan saudara lainnya.
Akhir kata, karena anak-anak saudara mungkin tidak banyak mengetahui mana yang baik dan buruk, benar dan salah, maka mereka tentu membutuhkan bimbingan atau penjelasan dari saudara mengenai media yang mereka serap. Kalau itu dapat terjadi, niscaya anggota keluarga saudara dapat hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Kiranya PELITA 111 ini memberikan inspirasi yang memberkati keluarga.
Dari Meja Gembala
Komentar