KEKUATAN DI BALIK DOA

1 Samuel 1: 1-28

“Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu dan menginat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” (ayat 11)

PENDAHULUAN

Kekuatan bisa lahir dari kepercayaan diri dan optimisme. Namun kekuatan sejati akan lahir dari kepercayaan diri yang bergantung kepada Tuhan dan optimisme yang benar akan terarah ke arah yang benar bahwa Tuhan berdaulat dalam hidup setiap anak-anak-Nya. Dalam kaitan ini, kekuatan tersebut hanya bisa kita dapatkan jika kita memiliki hubungan dengan Tuhan, bukan sekedar hubungan biasa, tetapi hubungan yang intim (HPDT). Hubungan yang demikian akan kita peroleh dengan membaca firman-Nya dan berdoa. Ada kekuatan di balik sebuah doa. Percayalah! Kekuatan itu dibuktikan oleh seorang perempuan yang bernama Hana.

PENJELASAN

Ketika sepasang kekasih menikah dan memulai sebuah keluarga, hal apa yang paling didambakan oleh mereka? Memiliki seorang anak. Sebagai orang Kristen maka yang pertama-tama yang akan kita lakukan adalah BERDOA memohon kepada TUHAN. Namun adakalanya Tuhan mengijinkan ada sebuah keluarga yang memang belum/tidak dikarunia seorang anak di dalam sebuah pernikahan. Semuanya berada di dalam rahasia Allah, berada di dalam area kedaulatan Allah.

Keadaan seperti inilah yang dialami oleh seorang yang bernama Hana. Suaminya Elkana dikisahkan memiliki dua orang istri, yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina memiliki anak sedangkan Hana tidak (1Sam. 1: 1-2). Ada kemungkinan Elkana memiliki dua isteri dikarenakan Hana saat itu mandul. Jika sseorang isteri tidak memiliki anak pada zaman sekarang mungkin tidak menjadi masalah yang besar, namun amat berbeda dengan masa di mana Hana hidup yaitu masa pejanjian lama. Tidak memiliki anak alias mandul merupakan sebuah kegagalan bagi seorang isteri dan aib bagi seorang perempuan. Secara sosial ia pasti merasa dipermalukan, direndahkan dan mungkin saat itu Hana tidak hanya mengalami penghinaan dari Penina seorang, tetapi juga orang-orang sebangsanya dan para tetangga yang melihat dan mendengar bagaimana Penina menjelek-jelekkan Hana (1Sam. 1: 7). Bisa dibayangkan bagaimana pedihnya hati Hana saat itu, dia merasa tersisihkan, sedih, sakit hati karena tidak memiliki anak ditambah dengan ejekan-ejekan yang ditimpakan kepadanya.

Namun Hana bukanlah seorang yang putus asa. Seakan dia memiliki pemikiran bahwa sebesar apapun kepahitan yang dia rasakan, dia punya Allah yang jauh lebih besar dari kepedihan yang dia alami. Dia percaya kepada pertolongan Allah, terlebih dia pasti masih mengingat bagaimana pendahulu-pendahulunya seperti Sara, Ribka yang sebelumnya mandul namun akhirnya dibukakan kandungannya. Inilah awal kekuatan dari sebuah doa: optimis dan memiliki keyakinan kepada Allah. Apakah saudara memilikinya?

Dikatakan di 1 Samuel 1: 10dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN. Dalam pengertian yang sesungguhnya, Hana secara fisik, secara emosional mengalami remuk hatinya seperti yang dialami oleh Ayub dan Naomi. Karena begitu pedihnya, ia pun berdoa dengan meneteskan air mata dan dengan tersedu-sedu ia menaikkan permohonannya. Namun, di saat itu ia tidak berdoa secara samar-samar, tidak bertele-tele, dan ia tidak meminta hal yang aneh-aneh. Dia hanya menaikkan permohonan yang sudah begitu lama dipendamnya yaitu: “berikanlah hamba-Mu ini anak laki-laki” dan pastinya doa yang dia panjatkan saat itu bukanlah yang pertama kali, pastilah itu sudah yang kesekian kalinya. Di sini kita dapat melihat kesetiaannya, ketekunannya, kesabarannya dan keyakinannya dan dia tetap memohon kepada TUHAN dengan iman yang dimilikinya. Setahun kemudian setelah ia berdoa, firman Tuhan menulis: “mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN" (1Sam. 1: 20). Tuhan menjawab doa seorang yang meminta kepada-Nya.

APLIKASI

Selalu ada kekuatan di balik doa dan Hana membuktikannya. Hana telah memenuhi apa yang Tuhan kehendaki ketika ia berdoa kepada-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari doa Hana? Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari, di antaranya:

1. Memuji dan mengakui kebesaran Allah

2. Berdoa karena dosa yang diampuni

3. Berdoa dengan rendah hati

4. Mengajukan permohonan yang jelas, spesifik dan khusus

5. Merindukan agar kehendak Allah yang jadi dan Kerajaan-Nya diperluas

6. Berdoa dengan iman

PERTANYAAN DISKUSI

1. Apa yang membuat Hana percaya bahwa doanya didengar oleh TUHAN? Bagaimana dengan kita?

____________________________________________________________________________

2. Apakah balasan yang diterima Hana karena ia menyerahkan anaknya kepada Allah? (1Sam. 2: 21). Hal tersebut membuktikan apa?

____________________________________________________________________________

3. Hal apakah yang terpenting bagi saudara yang sudah saudara berikan kepada Allah karena Allah menjawab doa saudara?

____________________________________________________________________________

4. Dalam hal-hal apakah contoh yang diberikan Hana mempengaruhi kehidupan doa saudara?

____________________________________________________________________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Komsel: MENJADI ORANG KRISTEN YANG MENULAR