PENDAKIAN ILAHI


PENDAKIAN ILAHI[1]

Perjalanan rohani saudara, rupanya dapat saja diparalelkan dengan mendaki sebuah gunung, di mana Alkitab adalah peta rute pendakiannya. Dalam pendakian tersebut, lama kelamaan medan yang didaki akan menjadi semakin curam dan curam, tetapi seiring dengan makin tinggi ketinggian- pemandangan yang ditawarkan justru semakin indah, menarik, dan sekaligus menakjubkan.
Bagi para pendaki, puncak gunung biasanya ‘dimahkotai dengan kemuliaan Allah.’ Banyak dari para pendaki ini yang merasakan energi yang berbeda saat mereka mencapai dan berada di puncak. Kedahsyatan alam, kemahakuasaan Tuhan dan betapa tidak ada apa-apanya manusia ini, kerap dirasakan oleh para pendaki ketika mereka berada di puncak. Semakin tinggi suatu gunung, biasanya semakin sedikit orang yang bisa mencapainya. Daud, dalam Mazmur 24:3, berujar seperti ini: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya...”
Pendakian gunung bukanlah suatu kegiatan yang mudah untuk dilakukan - dibutuhkan suatu pelatihan berikut pengalaman. Pendakian yang buruk dapat berakhir dengan luka serius dan membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. Terkadang mentalitas manusia adalah ingin mengambil jalan pintas - naik helikopter untuk mendekati puncak. Tetapi masalahnya adalah bahwa pendakian adalah pengalaman langkah-demi-langkah pembelajaran yang sangat penting. Pendakian ilahi adalah suatu proses di mana saudara bergerak dengan kecepatan Allah, mengikuti arahan Tuhan, menjadi lebih dekat dan lebih dekat lagi ke puncak.
2 Petrus 1:2-7 mengungkapkan kepada saudara, ‘tingkatan-tingkatan’ yang harus dilalui dalam pendakian ilahi saudara, yaitu: tingkatan iman, yang kemudian harus dilengkapi dengan kebajikan, dan kebajikan dengan pengetahuan, dan pengetahuan dengan penguasaan diri, dan penguasan diri dengan ketekunan, dan ketekunan dengan kesalehan, dan kesalehan dengan kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan saudara-saudara dengan kasih akan semua orang. Masing-masing kualitas dibangun di atas kualitas sebelumnya. Seperti mendaki, pada setiap tingkat saudara harus melihat lebih banyak buah Roh berwujud dalam karakter saudara sendiri. Saudara memulai pendakian gunung dengan langkah  iman, dan saudara harus mencapai puncak untuk menemukan kasih yang sempurna.
Kepercayaan adalah sifat penting bagi mereka yang mendaki gunung.  Saudara harus yakin bahwa pendakian ilahi ini layak untuk dilakukan dan diperjuangkan. Telah dijanjikan upah bagi mereka – bagi kita, yang mencapai puncak. Ibrani 11:6 berbunyi demikian : “Tetapi tanpa  iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia ".
Ketika pendakian dilakukan - bisa saja dan adakalanya saudara akan tergelincir dan terjatuh, tetapi jangan kuatir karena Allah tidak akan meninggalkan saudara sendirian. Yesaya 58:8-9 mengatakan begini:” Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera.; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!...”

Pertanyaan untuk Didiskusikan
1.      Bagaimana kondisi pendakian ilahi yang sedang saudara jalani saat ini?
2.      Bagaimana caranya agar saudara bisa mendaki lebih tinggi hingga mencapai puncak?


[1]Bahan komsel ini diterjemahkan dan disadur secara bebas dari artikel berbahasa Inggris, Spiritual Mountain Climbing - yang dapat dijumpai di  [http://heartofwisdom.com/blog/spiritual-mountain-climbing/].

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Komsel: MENJADI ORANG KRISTEN YANG MENULAR