THE HEART OF WORSHIP


Yohanes 4:20-26,34
Pengajaran:
Untuk mengenal secara sederhana mengenai inti dari ibadah (the Heart of Worship), maka perlu kita memahami beberapa kata yang muncul dalam Perjanjian Baru dan artinya:
1.      Leiturgia [λειτουργία - service] – Filipi 2:17 yang bisa berarti pelayanan. Ini dimaksudkan Paulus ialah, sekalipun ia mati demi memenangkan orang Filipi bagi Tuhan, atau membuat orang Filipi beribadah atau melayani Tuhan yang benar ia tetap bersukacita.
2.      Eusebeia [εὐσέβεια-godliness] – 1 Timotius 4:8; 3:16, 2 Tim 3:5, 12-13; yang artinya sikap mengakui dan menjunjung tinggi Tuhan. Kata inilah yang dipakai pada ayat-ayat berikut yang diterjemahkan oleh LAI dengan kata ibadah.  Dengan kataini, Paulus ingin mengajarkan bahwa yang di dalam PL dikenal dengan tata cara pelayanan Bait Allah yang leiturgia (liturgi) di zaman PB tidak dibatasi tempat, waktu dan postur tubuh lagi, melainkan sepenuhnya merupakan sikap hati (godliness) orang itu dalam seluruh waktu hidupnya. Zaman PL menekankan retuil ibadah, sedang zaman PB adalah zaman ibadah hakekat rohaniah yang menekankan sikap hati / karakter bukan sikap badan (Yohanes 4:23).
3.      Thrēskos [θρῆσκος -  religion] -  Yakobus 1:26-27, Ayat-ayat tersebut di atas mengajarkan bahwa ibadah itu bukan lagi bersifat ritual melainkan bersifat kehidupan. Pada ayat ke 27 dikatakan bahwa agama yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah bukan yang menekankan acara ritual melainkan sebuah sikap kehidupan yang diekspresikan dengan mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
4.      Latreia [λατρεία- service] – Roma 12:1, ‘ibadahmu yang sejati’ (hurufiah – pelayananmu yang logis). Jadi, menurut Paulus, pengabdian atau pelayanan atau persembahan kita yang masuk akal, atau yang logis, itu adalah mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang hidup, dan yang kudus yang berkenan kepada Allah. Persembahan domba yang disembelih yaitu yang mati adalah persembahan simbolik untuk menggambarkan Sang Juruselamat.
Kesimpulan:
1.      Dari pemakaian beberapa kata IBADAH ini, ternyata ada perubahan sistem ibadah antara sebelum dan sesudah kedatangan Yesus. Ibadah tidak lagi bersifat simbolik. Atau ritual semata tetapi  sikap, hati dan cara hidup mereka apakah sesuai dengan kebenaran. Pusat Ibadah bukan pada Bait Allah atau lokasi / Yerusalem, tetapi lebih kepada Tuhan Allah [lihat kasus dari percakapan Yesus dengan perempuan Samaria – Yohanes 4:20-23].
2.      Ibadah adalah pelayananan dan persembahan umat kepada Tuhan. Apa yang harus dipersembahkan? Ibadah bukanlah sekedar datang ke gereja juga mendengar Firman Allah serta mempersembahkan hidup [PL – Persembahan Korban Binatang Sulung dan Tidak Bercacat – Roma 12:1-2]. Korban bukanlah Korban apabila tidak menyakitkan kita. Apakah Ibadah yang kita lakukan menyenangkan Tuhan? Maka itu dapat dipertanyakan seperti ini: Apakah yang harus DIKORBANKAN (ada yang hilang, yang dituntut untuk dibawa ke mezbah korban, yang terbaik, yang kudus, dll) atau datang ke dalam ibadah dengan asal-asalan saja, sediakan waktu ibadah dengan tergesa-gesa, persembahan uang dan hati yang kumal?
3.      Ibadah adalah persekutuan antara umat dengan Tuhan. Yang bersekutu di sini bukan hanya jasmani tetapi juga pikiran, hati, dan jiwa kepada Tuhan., yang seharusnya diwujudkan dengan sikap seluruh hidup.

DISKUSIKANLAH:
1.      Menurut Saudara, bagaimana seharusnya memperbaiki sikap ibadah kita?
2.      Apakah ritual liturgy juga penting tidak menurut Saudara? Mengapa?
3.      Adakah usulan bagi liturgy gereja kita?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Komsel: MENJADI ORANG KRISTEN YANG MENULAR

“Persembahan Pembangunan Gereja”

“Makna Angka 12”