"Ketika Tuhan Terasa Jauh"

 “Tuhan menyembunyikan diri-Nya dari umat-Nya, Tetapi aku percaya kepada-Nya dan menaruh pengharapan di dalam Dia.”
 Yesaya 8:17 [TEV]

Apa Pun Yang Anda Rasakan, ingat Tuhan Benar Benar Ada! Memang mudah untuk menyembah Tuhan ketika segalanya berjalan baik dalam kehidupan kita. Namun, keadaan tidak selalu lancar. Dalam kondisi seperti itu, apakah tetap menyembah-Nya? Tingkat penyembahan yang paling dalam adalah memuji Tuhan walaupun dalam keadaan sakit, bersyukur kepada Tuhan dalam pencobaan, percaya kepada-Nya ketika dicobai, berserah kepada-Nya dalam penderitaan, dan tetap mengasihi-Nya sekalipun Dia terasa jauh. Persahabatan teruji oleh perpisahan dan kesunyian. Dalam persahabatan dengan Tuhan, kita tidak akan selalu merasa dekat dengan-Nya. Jadi untuk mendewasakan hubungan kita, Tuhan akan mengujinya dengan apa yang tampaknya sebagai masa-masa perpisahan, masa di mana seolah-olah Ia telah melupakan dan meninggalkan atau melupakan kita. Walaupun, Tuhan tidak benar-benar meninggalkan kita. Ia telah berjanji berulangkali : “Aku tidak akan meninggalkan dan melupakanmua.”, namun Ia tidak berjanji bahwa kita akan selalu merasakan kehadiran-Nya.
Ketika Tuhan terasa jauh, mungkin kita merasa bahwa Ia marah atau sedang mendisiplin kita karena suatu dosa.  Dosa memang memisahkan kita dari persekutuan yang akrab dengan Tuhan. Tetapi perasaan ditinggalkan oleh Tuhan atau keterasingan dari-Nya ini tiada hubungannya dengan dosa. Itu adalah ujian iman – yang harus kita semua hadapi. Apakah kita akan mengasihi, percaya, taat, dan menyembah Tuhan walaupun kita tidak merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita?
Kesalahan yang sering dibuat oleh orang-orang Kristen dalam menyembah masa kini adalah mencari pengalaman, bukan mencari Tuhan. Mereka mencari perasaan, lalu menyimpulkan bahwa mereka telah menyembah, itu salah! Tuhan sering menyingkirkan perasaan-perasaan kita sehingga kita tidak tergantung pada perasaan itu. Mencari perasaan, sekalipun perasaan dekat dengan Kristus, bukanlah sebuah penyembahan. Ia lebih ingin kita percaya kepada-Nya daripada hanya merasakan-Nya. Karena kalau hanya menyandarkan pada perasaan, bukan iman maka ketika Tuhan terasa jauh atau berdiam diri, maka kita tidak akan menyembah-Nya! [band. Ay 1:20-21]
Bagaimanakah kita tetap terhubung walau Dia terasa jauh?
1.     Katakanlah apa yang kita rasakan. Curahkanlah isi hati kita kepada Tuhan. Keluarkanlah semua emosi yang Anda rasakan [lihat contoh Ayub 7:11]. Tuhan mampu menangani keraguan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan kita. Mengakui akan keputus-asaan kita dalah suatu pernyataan iman kita [Maz 116:10].
2.     Pusatkanlah perhatian pada siapa Tuhan sebenarnya – sifat-Nya tidak berubah. Apa pun situasi dan perasaan kita, berpeganglah pada sifat-Nya yang tidak berubah. Ingatkanlah diri sendiri tentang apa yang kita ketahui sebagai kebenaran kekal tentang  Tuhan: Ia baik, Ia mengasihiku, Ia menyertaiku, Ia mengetahui apa yang sedang kita hadapi, Ia peduli, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk hidup kita.
3.     Percaya bahwa Tuhan menepati Janji-Nya. Selama masa kekeringan rohani kita harus dengan sabar bersandar pada janji Tuhan, bukan emosi, dan menyadari bahwa Ia sedang membawa kita ke tingkat kedewasaan yang lebih dalam. Persahabatan yang didasarkan pada emosi memang dangkal. Jika kita merasa ditinggalkan Tuhan, teruslah percaya kepada-Nya walaupun perasaan kita sedang kacau, Anda menyembah-Nya dengan cara yang paling dalam.
4.     Ingat apa yang telah Tuhan lakukan untuk kita. Jika Tuhan tidak pernah melakukan hal lain untuk kita, Ia tetap saja berhak menerima pujian kita terus menerus seumur hidup karena apa yang Yesus telah lakukan untuk kita di atas kayu salib. Anak Allah telah mati untuk menggantikan segala dosa kita! Ini adalah alasan yang paling tepat untuk menyembah. Yesus menyerahkan segalanya agar kita dapat menerima segalanya. Ia mati agar kita dapat hidup selamanya. Itulah yang melayakkan Dia mendapatkan pujian dan ucapan syukur kita terus menerus. Jangan lagi bertanya-tanya untuk apa kita bersyukur.

 Ayat Hafalan: Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13:5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Komsel: MENJADI ORANG KRISTEN YANG MENULAR